Belajar dari Yola

Kadang lucu juga kalo dipikir, mengingat saya ini nantinya bakalan jadi guru, tapi jujur sampai sekarang saya belum menemukan jiwa seorang guru itu sendiri. Heh... dasar... Cumak karena saya nggak mau murid-murid saya besok pada tau kalo ternyata gurunya nggak bisa ngajar, saya coba mulai dari sekarang belajar dari guru #eaaa

Adalah dua anak perempuan imiut yang sekarang pura-pura jadi murid saya, Yola dan Shara. dulu saya pernah cerita soal Yola dan kali ini saya akan cerita lagi soal dia. Yola yang umurnya 13 tahun dan sekarang udah kelas 1 SMP, makin lama-makin lengket aja sama diriku. Bukan karena dia jadi pinter gara-gara belajarnya sama saya tapi usut punya usut ternyata lengketnya itu gara-gara belakangan ini saya enak di ajak curhat soal cowok dan katanya saya juga bisa di ajak kompromi soal nilai-nilai sekolahnya. #loh
Iya, jadi sejak masuk SMP beberapa bulan lalu, emang sikap Yola itu jadi berubah. Ya, wajar sih kalo menurutku. Itu adalah fase yang harus dia lewati. Cuma disini peran orang tuanya juga sangat di perlukan. Tapi yang aku liat kedua orang tua kayaknya belom atau nggak tau soal perubahan sikap anaknya ini. Tapi yang jelas ketika dia belajar bareng aku, udah agak berubah psikisnya. Menurut  yang saya tau, fase kayak gini itu adalah fase yang paling rawan bagi anak. Ini merupakan fase dimana dia bakalan pindah dari masa anak-anak ke masa remaja. Beneran deh kalo peran orang tua sangat penting disini. Kenapa? coba liat faktanya aja.
Masuk SMP pastinya dia bakalan nemuin temen-temen baru yang beragam pergaulannya. Kecenderungan bergaul itu tergantung pribadi anak. Anak yang pribadinya aktif akan cenderung mencari teman yang aktif juga, begitu pula anak yang punya pribadi kurang bagus seperti mencuri misalnya, dia juga akan cenderung berteman dengan anak yang berpribadi sama. Catet ya, ini cuma sekedar c-e-n-d-e-r-u-n-g yang pasti ada juga faktor lain yang mempengaruhinya. Nggak nutup kemungkinan kayak Yola, dia anak yang pasif, pendiem, nurut, cenderung lurus-lurus aja,  ternyata temen-temennya yg sekarang ini adalah sekumpulan anak-anak suka over acting di kelasnya, suka buat hal-hal aneh yang nggak penting dan sering banget yg namanya nggak ngerjain PR. Jadi menurutku hal lain yang perlu di catat selain kecenderungan berteman karena pribadi, adalah mengajari anak untuk tidak mudah terpengaruh. Lah gimana caranya vir? T_T yaa balik lagi ke kepribadiannya. Inget kalo kepribadian itu bisa di bentuk. Disini lingkungan pengaruh banget dan yang paling dekat adalah orang tua. Pengawasan yang ketat itu perlu tapi kalo bisa jangan sampai anak tau kalo dia sedang diawasi (bukan over protective).Nah, kasus yang aku liat di Yola ini adalah orang tuanya yang terlalu protective.  Jadi kalo ada masalah yang sekiranya dia nggak berani cerita ke orang tuanya, dia ceritanya ke saya. Satu hal lagi yang bisa di ambil pelajaran disini, bahwa di fase transisi seperti ini alangkah lebih baiknya orang tua itu bersikap terbuka ke anaknya. Kalo bisa posisikan diri sebagai teman sebaya yang enak di ajak sharing. Jadi anak nggak ragu-ragu buat cerita semua masalahnya ke orang tua mereka sendiri, bukan ke orang lain seperti yang Yola alami saat ini. Ironis memang. Tentunya, diriku sebagai pihak ketiga kudu bijak juga. Disini saya nggak mau ngambil alih posisi orang tuanya, cumak karena atmosfer yang tercipta di keluarganya udah kayak gitu, ya mau nggak mau akhinya saya memposisikan diri jadi fasilitator aja antara Yola dan orang tuanya. Apa yang Yola ceriatakan ke saya ya saya sampaikan juga ke orang tuanya. Tentunya dengan bahasa yang udah saya bulet-buletkan sedemikian rupa yang sekiranya bisa diterima orang tuanya dan nggak mengurangi nilai-nilai yang terkendung dalam cerita tersebut. #halah
Ternyata nggak cuma jadi guru aja yang susah (sebenernya gampang cumak diriku aja yg menyusahkan diri T_T), jadi orang tua jauh lebih susah lagi dan itu akan di dialami semua orang. Belum lagi di akhirat kudu ada juga pertanggungjawabannya cuy....Belajar jadi orang tua dari sekarang ahh ^_^

6 komentar:

Unknown mengatakan...

ya mbakkk!! betul itu,mendidik anak itu susah susah gampang. Apalagi kalo anaknya kayak diriku

Unknown mengatakan...

hahay emang dirimu kayak apa? kan tinggal di kasi makan aja beres to? #loh

rotyyu mengatakan...

Jurusan psikologi anak ya?

Unknown mengatakan...

bukan bang, cumak seneng aja bahas masalah begituan

Coro Mas mengatakan...

Mba el lengkap nih tulisannya sampe saya terbulet2kan(opo to artine mbak?)

Jadi sebenarnya memang benar, mendidik anak itu memang lebih sulit dari pada membuat anak #alaah..

Kali ini serius.....
Jadi saya bukan jurusan Psikologi!!! lho... :D

Perubahan sikap pada anak itu wajar harus ditanggapi dengan serius. Salah satu yang terpenting adalah tidak lepas komunikasi. Banyak para orang tua yang gak bisa mendengar pendapat anak meski hanya sekedar curhat kecil tentang pacar, misalnya. Padahal kepada sapa lagi anak bercurah diri (bener ga bahasanya?).

Salam kenal mba elvira...

Unknown mengatakan...

komentar terpanjang pertama di blog saya, hahaha

eniwei saya juga setuju sama mas santri, sebagai orang tua kudu tanggap sama anaknya

salam kenal juga ^^

Posting Komentar

kalo mau nyampah juga boleh...