Industrialisasi Pendidikan Indonesia

Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kata "industri"? Jika diartikan menurut asal katanya, industri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan. Lalu, apa hubungannya dengan pendidikan terutama pendidikan di Indonesia? Mari kita coba lihat.

Industrialisasi sangat berkaitan dengan perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, atau yang disebut dengan komersialisasi. Berkaitan dengan pendidikan, maka pengertian komersialisasi pendidikan bisa dikatakan menjadikan pendidikan itu sebagai sesuatu yang diperjualbelikan, dimana pihak penyelenggara pendidikan lebih mengutamakan keuntungan tanpa mengindahkan muatan nilai sosial kemasyarakatan, budaya dan aspek legalitas tujuan penyelenggaraan pendidikan. Dengan kata lain, komersialisasi pendidikan berarti menjadikan pendidikan sebagai sektor jasa yang diperdagangkan.

Hal tersebut mengandung makna bahwa siapapun dapat mengikuti pendidikan selama mampu untuk membayar seluruh biaya yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dampaknya adalah yang mampu membayar biaya operasional sekolah dapat memperoleh jasa pendidikan, sebaliknya yang tidak mampu membayar tidak akan dapat menikmati jasa pendidikan yang dimaksud. Padahal semestinya pendidikan sebagai upaya pembentukan moral dan watak bangsa tidak boleh diperlakukan sebagai “barang” yang diperjual belikan sebagai komoditas.

Ada setidaknya 5 kriteria lembaga sekolah dikategorikan komersil:
  • Penyelenggaraan pendidikan dijadikan  komoditi yang diperjualbelikan.
  • Memerlukan biaya mahal (hanya dapat dijangkau oleh masyarakat kaya).
  • Tidak memberi kesempatan kepada peserta didik dari kalangan masyarakat kurang/tidak mampu (miskin).
  • Tidak memberi “subsidi silang/dispensasi” uang sekolah bagi siswa yang kondisi orangtua tidak mampu dari segi ekonomi.
  • Misi penyelenggaraan pendidikan lebih berorientasi mencari keuntungan.
Diakui atau tidak, pendidikan kini mulai tergerus arus materialisme. Motif bisnis nyaris selalu tersimpan di balik predikat sekolah unggulan. Dunia pendidikan ternyata juga tak lepas dari “mata jeli” para pebisnis. Berdalih pendidikan terpadu, bertaraf internasional, dan seabreg fasilitas, sekolah-sekolah bercap unggulan pun tumbuh menjamur dengan harga yang selangit. Tentu pendidikan adalah kebutuhan sepanjang zaman setiap manusia. Karena itu, bisnis di bidang ini adalah komoditas yang sangat menarik.

Ini semua juga merupakan refleksi atas dampak liberalisasi perdagangan global terhadap komodifikasi (commodifation) pendidikan. Komodifikasi merupakan proses transformasi yang menjadikan sesuatu menjadi komoditi atau barang untuk diperdagangkan demi mendapat keuntungan.

Dewasa ini umat manusia telah memasuki zaman baru yang ditandai dengan menguatnya paham Pasar bebas, yang dikenal sebagai zaman globalisasi. Tradisi umat manusia untuk mempertahankan eksisitensi mereka melalui pendidikan mendapat tantangan, karena pendidikan bagi sebagian manusia dapat digunakan untuk mengakumulasi kapital dan mendapatkan keuntungan. Bagaimana mungkin tradisi manusia tentang visi pendidikan sebagai strategi untuk eksistensi manusia yang telah direproduksi berabad-abad selama ini, diganti oleh suatu visi yang meletakkan pendidikan sebagai komoditi.

Hiruk piruknya sekolah sebagai pasar, tempat transaksi apa saja, baik produk industri manufaktur, jasa, maupun produk kebijakan itu telah mengubah suasana dan fungsi sekolah. Suasana sekolah sudah tidak kondusif lagi sebagai proses pembelajaran, karena guru pun sudah sibuk dengan bisnis barunya. Sedangkan fungsi sekolah juga sudah bergeser, bukan tempat untuk proses pembelajaran, melainkan tempat untuk jual beli produk dan mencari keuntungan bagi siapa pun: guru, kepala sekolah, tata usaha, industri cetak, industri penerbitan, studio foto, industri tekstil, penjahit, pejabat, dan lain-lain.

Tidakkah kita memikirkan akan dibawa kemana masa depan anak didik jika sistem pendidikan seperti ini terus menerus terjadi di negeri ini???

Think again.

12 komentar:

Posting Komentar

kalo mau nyampah juga boleh...