KANDUNGAN Q.S. AL-JUMU’AH AYAT 2 TENTANG PENDIDIK




A. Surat Al-Jumu’ah ayat 2

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (Qs. Al-Jumu’ah: 2)

B. Kandungan makna Surah Al-Jumu’ah ayat 2
`¿Íh‹ÏiBW{$#’Îû]yèt/“Ï%©!$#qèd  (Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf ). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Muhammad diutus oleh Allah dengan kebenaran yang dibawanya kepada kaum yang belum tahu membaca dan menulis pada waktu itu. Rasul itu bukan datang dari tempat lain, melainkan timbul dan bangkit dalam kalangan kaum itu sendiri, dan Rasul itu sendiri juga seorang yang ummiy, beliau tidak pernah belajar menulis dan membaca sejak kecil sampai wahyu itu turun. Sehingga dia Rasul yang ummiy dari kalangan yang ummiy. [1]
Menurut ibnu Asyur Kata (فِي) fi/pada oleh ayat di atas berfungsi menjelaskan keadaan Rasul SAW. Ditengah mereka yakni bahwa beliau senantiasa berada dalam bersama mereka, tidak pernah meninggalkan mereka, bukan juga pendatang di antara mereka.
Kata (الأمِّيِّينَ) al ummiyyyin adalah bentuk jamak dari kata (ﺃﻣﻲ) ummiyy dan terambil dari kata (ﺃﻢ) umm/ibu dalam arti seorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaanya dari segi pengetahuan sama dengan keadaanya ketika varu dilahirkan oleh ibunya atau sama dengan keadaan ibunya yang tak pandai membaca dan menulis.  Ini karena masyarakat Arab pada masa jahiliyah umumnya yang tak pandai membaca dan menulis, lebih-lebih kaum wanitanya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ummiyy terambil dari kata (ﺃﻣﺔ) ummah/umat yang menunjuk kepada masyarakat ketika turunnya al-Qur’an yang oleh Rasul swa dilukiskan dengan sanda beliau :” sesunggunya kita adalah umat yang ummiyy, tidak pandai membaca dan berhitung.” Betapapun, yang dimaksud dengan al-Ummiyyyin adalah masyarakat Arab.[2]
Nåk÷]ÏiB Zwqß™u‘  (seorang Rasul dari kalangan mereka ). Orang-orang Arab pada waktu itu disebut sebagai orang-orang yang buta huruf karena pada umumya mereka tidak bisa membaca dan menulis. Dalam 100 orang belum tentu ada seorang yang pandai menulis atau membaca, tetapi mereka mempunyai satu kelebihan yaitu ingatan mereka sangat kuat. Kata (مِنْهُمْ) minhum/dari mereka, mengisyaratkan bahwa Rasul SAW memiliki hubungan darah dengan seluruh suku-suku Arab. Menurut sejarawan, Ibn Iskaq, hanya suku Taghlib yang tidak memiliki hubungan darah dengan Rasul.
Imam al-Jashshas pengarang kitab Ahkam Al-Qur’an menyebutkan sebuah hadis tanpa sanad bahwa Rasulllah bersabda, “Bulan itu seperti ini, seperti ini, dan seperti ini, (beliau mengisyaratkan dengan jari-jarinya). Sesungguhnya kita adalah umat yang ummiy tidak bisa menghitung dan tidak bisa menulis.[3]
Dalam kalangan mereka itulah nabi Muhammad SAW dibangkitkan dalam keadaan yang ummiy pula, ¾ÏmÏG»tƒ#uä  (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã (yang membacakan kepada mereka akan ayat-ayatNya.), artinya bahwa diangkatnya nabi Muhammad yang ummiy menjadi seorang Rasul, lalu diturunkan kepadanya wahyu illahi sebagai ayat-ayat, yang pertama turun di gua hira, dimulai dengan ayat “Iqra’”, artinya “bacalah!”. Pada ayat yang pertama dan “ allama bil qalam, ‘alamal insaana maa lam ya’lama”. (yang mengajar dengan memakai pena, mengajarkan kepada manusia barang yang tadinya belum dia ketahui). Maka beerturut-turut ayat yang lainya selama bel;iau di Mekkah dan pindah ke Madinah, semua itu beliau bacakan dan beliau ajarkan “dan menyucikan mereka”. Yaitu membersihkan jiwa mereka dari kepercayaan yang sesat, dari akidah yang salah dari langkah yang menyesatkan dan membersihkan badan mereka dari kotoran. Karena mereka selama itu belum mengenal arti kebersihan bagi dirinya sehingga mereka diajarkan cara berwudhu, mandi junub dan menghilangkan hadas dan najis. [4]
Ditafsirkan pula membacakan ayat-ayat Allah berarti Nabi Muhammad SAW “menyampaikan apa yang beliau terima dari Allah untuk umat manusia”, sedang menyucikan mereka mengandung makna “penyempurnaan potensi teoritis dengan memperoleh pengetahuan ilahiah”.[5]
|spyJõ3Ïtø:$#ur u=»tGÅ3ø9$# ãNßgßJÏk=yèãƒur  NÍkŽÏj.t“ãƒur (Dan mengajarkan kepada mereka akan kitab dan hikmah). Banyak ahli tafsir yang menafsirkan bahwa al-Kitab artinya adalah syari’at itu sendiri yang berisi perintah dan larangan. Sedangkan hikmah adalah arti dan rahasia dari perintah dan larangan itu. Dan mengajarkan al-Kitab merupakan isyarat tentang pengajaran “pengetahuan lahiriah dari syariat”, adapun al-Hikmah adalah “pengetahuan tentang keindahan, rahasia, motif, serta manfaat-manfaat syariat”. Demikian menurut ar-Razi yang dikenal dengan gelar al-Imam. Adapun maknanya menurut Abduh al-Hikmah adalah “rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta cara pengamalan, dst.” Imam Syaf’i memahami arti al-Hikmah dengan “as-Sunah”, karena tidak ada yang selain al-Qur’an yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kecuali as –Sunnah.
ûüÎ7•B  @»n=|Ê’Å”s9@ö6s%  `ÏB #qçR%x.bÎ)ur (Dan meskipun sebelumnya adalah di dalam kesesatan yang nyata). Oleh sebab itu supaya seseorang dapat menghayati hidup beragama, jangan hanya bertumpu pada syari’at dan tidak mengetahui latar belakangnya.
Pada ujung ayat 2 menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada seorang yang ummiy teerjadi setelah kedatangan Rasul dari kalangan mereka sendiri. Sebelum Rasul itu diutus banyak terjadi kesesatan yang nyata pada bangsa Arab. Mereka bukan hanya ummiy yang buta huruf saja bahkan ummiy dalam hal agama dan jalan yang benar. Misalnya mereka kuburkan anak perempuan mereka hidup-hidup, perang suku, dan ka’bah mereka jadikan tempat untuk berkumpulnya berhala-berhala sesembahan mereka.[6]
Kata (إِنْ) in/dalam firman-Nya : (وَإِنْ كَانُوا) wa in kaa nu berfungsi sama dengan kata (ﺇﻦ) inna/sesungguhnya. Indikatornya adalah huruf (A) lam pada kalimat (لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ) la fi dhalal mubin. Penggalan ayat di atas bermaksud mengambarkan  bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulllah itu sungguh merupakan nikmat yang besar bagi masyarakat arab yang beliau sungguh merupakan nikmat yang besar bagi masyarakat arab yang beliau jumpai. Beliau bukan mengajar orang-orang yang memiliki pengetahuan, atau menambah kesucian orang yang hampi suci, tetapi mereka adalah orang oaring yang sangat sesat.[7]
Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menulis dalam tafsirnya “Mahaasinut-ta’wil” tentang hikmah bahwa Nabi Muhammad diutus dan dibangkitkan Tuhan dalam kalangan mereka masyarakat orang-orang yang ummiy.
“ Makanya diutamakan membangkitkan Nabi Muhammad SAW itu dalam kalangan orang-orang yang ummiy ialah karena mereka masih mempunyai otak yang tajam, paling kuat hatinya, paling bersih fitrahnya dan paling fasih lidahnya. Kemurnian batinya (fitrahnya) belum dirusakkan oleh geloombang modernisasi, dan tidak pula oleh permainan golongan-golongan yang mengaku dirinya maju. Oleh sebab itu mereka masih polos, maka setelah jiwa mereka itu diisi dengan islam mereka telah bangkit dikalangan manusia dengan ilmu yang besar dan dengan hikmah yang mengagumkan dan dengan siasat yang adil. Dengan ajaran itu mereka memimpin bagsa-bangsa, dengan ajaran itu mereka menggoncangkan singgasana raja-raja yang besar-besar. Dan dengan jelasnya bekas ajaran itu pada sisi mereka, bukanlah berarti bahwa risalah kedatangan Muhammad ini hanya khusus untuk mereka “. Sekian al-qasimi


C. Relevansi Surah Al-Jumu’ah ayat 2 Dengan Hadits
Imam al-Jashshas pengarang kitab Ahkam Al-Qur’an menyebutkan sebuah hadis tanpa sanad bahwa Rasulllah bersabda, “Bulan itu seperti ini, seperti ini, dan seperti ini, (beliau mengisyaratkan dengan jari-jarinya). Sesungguhnya kita adalah umat yang ummiy tidak bisa menghitung dan tidak bisa menulis.
Orang yang tidak bisa menulis disebut seorang yang ummiy karena dinasabkan kepada kondisinya dilahirkan oleh ibunya dan kemampuan menulis itu terjadi dengan berlatih dan belajar.
Di dalam Hadist Nabi yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abu Umamah bahwa Rasulllah bersabda :
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَمَلاَئِكَتَهُ وأَهْلَ سمَاَوَاتِهِ وَاَرْضِهِ حتَىَّ النَّمْلَةَ
فىِ حُجْرِهاَ وَ حتَىَّ الحُوْتَ فىِ البَحْرِ لَيُصََلُّوْنَ عَلىَ مُعَلِّمىِ النَّاسَ الخَيْرَ (رواه الترمزى عمر أبى أمامة)
Artinya : sesungguhnya Allah Yang Maha Suci, Malaikat-Nya, penghuni-penghuni langit-Nya, dan bumi-Nya termasuk semut dalam lubangnya dan termasuk ikan dalam laut akan mendoakan keselamatan bagi orang-orang yang mengajar manusia kepada kebaikan. (HR. At-Turmudzi dan Umar Abi Umamah)
خيركم من تعلم القران و علمه
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من علم علما فكتمه الجمه الله يوم القيامة بلجام من نار (الحديث)
“ Barangsiapa saja ditanya tentang ilmu kemudian menyimpan ilmunya (tidak mau mengajarkan), maka Allah akan mengekang dia dengan kekangan api neraka pada hari kiamat. (Al Hadist)

بلغوا عني ولو اية وحدثوا عن بني اسرئيل ولا خرج و من كدب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه البخاري عن عبدالله بن عمرو)
Sampaikanlah dari ajaranku walau hanya satu ayat. Dan ceritakanlah oleh kalian dari Bani Israil, tidak ada dosa (bagi kalian). Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempat duduknya dineraka. “(HR. Bukhari dari Abdullah bib Amr ra)

  1. D. Pembahasan
Guru adalah seorang pendidik, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan anaknya kesekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru. Agama islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan (guru/ulama), sehingga hanya mereka sajalah yang pantas mencapai taraf dan ketinggian dan keutuhan hidup.
Firman Allah:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat
Ukuran ideal seorang guru sangat tergantung pada kemampuan dan pengalaman intelektulitasnya. Guru harus memiliki “skill labour” yaitu tenaga terdidik atau terlatih dengan kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan subjek didik. Guru merupakan figur dalam penyuksesan pendidikan bagi anak didik. Tidak cukup hanya saja, bahkan guru dituntut harus memiliki akhlak yang baik seperti diajarkan oleh Rasulullah saw.
Muhammad ‘Abd al-Qadir Ahmad menuturkan bahwa Rasul sosok sang pendidik, para sahabat sebagai subjek didik kala itu menangkap teladan yang luhur pada dirinya, berakhlak baik, memiliki ilmu dan memiliki keutamaan dalam semua gerak-geriknya.
Jika seorang pendidik mempunyai karakter seperti di atas, akan disenangi oleh peserta didik, dengan sendirinya akan disenangi ilmu yang diajarkannya. Muhammad ‘Abd al-Qadir mengatakan, “Banyak siswa yang membenci suatu ilmu atau materi pelajaran karena watak guru yang keras, akhlak guru yang kasar dan cara mengajar guru yang sulit. Di pihak lain, banyak pula siswa yang menyukai dan tertarik untuk mempelajari suatu ilmu atau mata pelajaran, karena cara perlakuan yang baik, kelembutan dan keteladanannya yang indah.”
Tugas ini merupakan suatu pekerjaan yang berat dan sulit dicapai oleh seseorang, apabila ia tidak mempunyai karakter pendidik. Seorang pendidik mempunyai sifat-sifat terpuji dan mampu menyesuaikan diri baik dengan peserta didik maupun dengan masyarakat. Sikap seperti inilah barangkali yang diketengahkan al-Quran dengan ungkapan Ulul al-Bab.[8]
Untuk memperoleh jawaban tentang ciri-ciri ideal seorang guru, paling tidak harus melakukan dua pendekatan, antara lain: pertama, pendekatan tidak disengaja. Pendekatan ini dilakukan dengan tidak disengaja oleh seorang pendidik, karena terjadi dalam interaksi keseharian, misalnya dalam proses belajar mengajar, maupun dalam pergaulan di luar kelas. Keberhasilan tipe keteladanan, seperti keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, penampilan (performance), tingkah laku, tutur kata dan sebagainya. Dalam kondisi ini, pengaruh keteladanan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini berarti bahwa setiap orang yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt.
Kedua, pendekatan yang disengaja. Pendekatan ini dilakukan dengan cara penjelasan atau perintah agar diteladani. Seperti lazimnya seorang pendidik memerintah muridnya untuk membaca, mengerjakan tugas sekolah, tugas rumah atau seorang pendidik memberi penjelasan di papan tulis kemudian ditiru oleh murid-muridnya. Pendekatan ini dilakukan agar si anak terbiasa dan terlatih dalam kedisiplinan dan keuletan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Pendekatan ini adalah salah satu pendekatan yang paling sering dilakukan Nabi Muhammad saw., ketika bersama-sama dengan sahabatnya.
Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan jalan mengikuti keteladanan yang diberikan Rasulullah saw., secara sengaja, seperti digambarkan dalam sebuah hadits, “Hendaklah kamu sekalian mengambil cara-cara ibadah seperti ibadahku.”
Selain mencakup faktor pendidik, ayat tersebut juga berhubungan dengan strategi pendidikan. Strategi pendidikan pada hakikatnya adalah pengetahuan atau seni mendayagunakan semua factor maupun kemampuan untuk mencapai sasaran pendidikan melalui perencanaan dan pengarahan dalam kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Strategi pendidikan juga dapat diartikan sebagai kebijaksanaan dan metode umum pelaksanaan proses belajar.[9]
Disamping itu, karenapekerjaan mendidik sangatvmembutuhkan landasan mental dan spiritual terutama yang memberikan optimism dalam siakp mendidik, maka Allah memberikan petunjuk bahwa menusiapun mempunyai kemampuan untuk menunjukkan orang lain kea rah yang lurus atau benar.(Asy Syura, 52)
Selain mendidik pendidik/guru mempunyai 4 empat tugas, yaitu ;
  1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama isalm
  2. Menanamkan Keilmuan dalam jiwa anak.
  3. Mendidik anak agar taat menjalankan agama.
  4. mendidik anak agar berbudi pekerti baik.

0 komentar:

Poskan Komentar

kalo mau nyampah juga boleh...